Rabu, 17 November 2010

Buya Hamka

Dalam perjalanan sejarahnya, bangsa kita telah melahirnya sekian banyak tokoh besar dalam beraneka macam bidang kehidupan, mulai dari politisi, agamawan, ilmuwan, olahragawan, seniman, hingga penulis. Sebagian besar dari tokoh terkenal Indonesia tersebut bukan hanya dikenal di dalam negeri tetapi juga dikenal di mancanegara.
Salah seorang di antaranya adalah Haji Abdul Malik Karim Amarullah yang lebih dikenal dengan sebutan Hamka. Ia seorang ulama besar yang pernah dilahirkan bangsa Indonesia. Tun Abdul Razak, mantan Perdana Menteri Malaysia pernah mengatakan bahwa Hamka bukan hanya milik bangsa Indonesia, tetapi juga telah menjadi kebanggaan bangsa-bangsa Asia Tenggara.
Ulama yang pernah mendapat anugerah gelar Doktor Honoris Causa dari Universitas Al-Azhar Kairo ini lahir di Maninjau, Sumatera Barat, 16 Februari 1908. Beliau adalah putra dari Haji Abdul Karim Amrullah (Haji Rasul), seorang tokoh sentral dalam gerakan Islam “Kaum Muda” di daerahnya bersama Syekh Muhammad Djamil Djambek dan H. Abdullah Ahmad.
Ulama Sekaligus Penulis
Selain aktif berdakwah secara lisan —beliau dikenal dengan ceramah— ceramah agamanya di radio pada 1970-an, Hamka pun dikenal sebagai ulama yang sangat produktif dalam menulis.
Bahkan, profesi kepenulisannya ini telah melahirkan sisi lain dari pribadinya; sisi yang kerap disandingkan dengan keulamaannya, yaitu sebagai seorang sastrawan sekaligus penulis Islam paling sukses di Indonesia, khususnya pada awal abad ke-20.
Tulisannya sangat kaya ide, dibawakan secara mengalir, dan mencakup banyak bidang kajian mulai dari tasawuf modern yang ditulis pada 1930-an, sejarah, politik, budaya, fikih, akhlak, hingga hingga roman dan cerpen.
Mandi Cahaya di Tanah Suci, Di Lembah Sungai Nil, Di Tepi Sungai Dajah, Di Bawah Naungan Ka’bah, Tenggelamnya Kapal van der Wijk, Merantau ke Deli, Di Dalam Lembah Kehidupan, dan biografi orang tuanya berjudul Ayahku adalah sebagian karya roman yang pernah ia tulis.
Jika dihitung, tidak kurang dari 118 buah tulisan Hamka yang dibukukan. Jumlah ini belum termasuk karangan yang dimuat di media massa atau yang disampaikan dalam ceramah dan kuliah. Karya-karya ini seakan menunjukkan keluasan dan kedalaman ilmu seorang Hamka.
Pada 27 Januari 1964, ulama dengan jasa yang besar pada negara ini ditangkap sahabatnya sendiri. Ia dijebloskan ke penjara selama Orde Lama karena ceramah dan tulisan-tulisanya yang dianggap “menyinggung perasaan” penguasa.
Selama mendekam dalam penjara itulah Hamka merampungkan karya monumentalnya, yakni Tafsir Al-Azhar. Dalam tafsirnya tersebut, ia menuturkan pengalamannya selama di penjara.
“… tetapi di samping hati mereka yang puas (karena telah memenjarakan saya), Allah pun telah melengkapi apa yang difirmankan-Nya dalam QS Ath-Taghâbûn, 64 ayat 11. Yaitu bahwa segala musibah yang menimpa diri manusia adalah karena izin-Nya. Asal manusia beriman teguh kepada Allah, maka Allah pun akan memberikan hidayah ke dalam hatinya. Allah rupanya menghendaki agar masa terpisah dari anak istri selama dua tahun, dan terpisah dari masyarakat, dapat saya pergunakan untuk menyelesaikan pekerjaan berat ini, yaitu menafsirkan Al-Quran Al-Karim. Karena kalau saya masih di luar, pekerjaan ini tidak akan selesai sampai saya mati. Masa dua tahun telah saya pergunakan dengan sebaik-baiknya.”
Inilah Hamka, walau dipenjara ia tetap setia dengan kebenaran, tidak berhenti berkarya dan tetap bersemangat “mengajari” umat. Inilah karakter yang menjadi ciri khas orang-orang besar sepanjang sejarah. Hamka wafat pada 1981 dengan meninggalkan warisan berharga bagi generasi selanjutnya.
Karya-karyanya telah menjadikan Hamka “tetap hidup” dalam memori bangsa Indonesia sekaligus menghidupkan inspirasi generasi sesudahnya untuk berkarya dan memberikan kontribusi positif bagi umat.


Kata-Kata Mutiara
Berikut ini adalah beberapa kata mutiara peninggalan Hamka yang layak kita renungkan:
  • Cinta tidak mengajari kita lemah, tetapi membangkitkan kekuatan. Cinta tidak mengajari kita menghinakan diri, tetapi menghembuskan kegagahan. Cinta tidak melemahkan semangat, tetapi membangkitkan semangat.
  • Kecantikan yang abadi terletak pada keelokkan adab dan ketinggian ilmu seseorang, bukan terletak pada wajah dan pakaiannya.
  • Kata-kata yang lemah dan beradab dapat melembutkan hati dan manusia yang keras.
  • Tuhanku, dosa yang aku kerjakan amat kecil jika dibandingkan dengan besarnya ampunan-Mu. Kalau Engkau hendak mencelakakanku, gelap jalan yang aku tempuh. Tak seorang pun yang kuat kuasa mempertahankan aku. Kalau Engkau hendak memberi aku malu, terbukalah rahasiaku, walaupun bagaimana aku menyembunyikan. Karena itu, ya Tuhanku, sempurnakanlah awal hikmah-Mu sampai ke ujungnya, dan jangan Engkau cabut apa yang telah Engkau karuniakan.
  • Undang-undang adab dan budi pekerti membentuk kemerdekaan bekerja. Undang-undang akal membentuk kemerdekaan berpikir. Dengan jalan menambah kecerdasan akal, bertambah murnilah kemerdekaan berpikir.
  • Di dalam medan kehidupan, ada undang-undang yang harus dijaga dan diperhatikan. Ada yang berhubungan dengan kesehatan tubuh, dengan keberesan akal dan yang berhubung dengan kemuliaan adab dan budi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar